Hukum Dan Kriminal

Terkait Kasus Awalolong, Dr. Melkianus Ndaumanu: Biarkan Penyidik Polda NTT Bekerja Profesional Tanpa Intervensi

KOTA KUPANG, buserbhindo.com/15 Juli 2021

“Jangan manfaatkan media untuk menciptakan opini bahwa seolah-olah kasus ini sudah ada kesalahan. Padahalnya hingga saat ini belum ada persidangan di Pengadilan.  Biarkan penyidik polda NTT bekerja secara profesional tanpa ada intervensi”, ungkap Dr. Melkianus Ndaumanu, S.H., M.Hum., sebagai ketua Tim Kuasa Hukum tersangka kasus dugaan korupsi proyek Awalolong kepada media ini, Kamis (15/7/2021).

Bagi Dr. Mel Ndaumanu, soal opini masyarakat atau sekelompok masyarakat dan sebagainya ya kita hargai, tetapi kita juga mesti menghormati proses hukum yang saat ini menjadi kewenangan penyidik, kita tidak harus memaksa ini dan itu, biarkan mereka (penyidik) bekerja secara professional.

“Saya yakin Penyidik Polda NTT tentunya mempunyai komitmen untuk kasus ini dibuka secara terang benderang, bebas intervensi dan menghormati HAM”, tandas Dr. Mel Ndaumanu

 

Sebagai kuasa hukum, kata Dr. Mel Ndaumanu, berdasarkan data-data yang ada pekerjaan itukan ada, hanya karena pindah lokasi. Dan pindah lokasi dari Awalolong ke saat ini ada di Wulen Luo inipun berdasarkan situasi di lapangan dimana banyak kendala yakni ada penolakan dari masyarakat jika proyek Jety Apung dan Kolam Renang Apung ada di Awalolong.

“Soal pindah lokasi itukan sudah ada mekanisme yang ditempuh oleh Dinas terkait tentunya berdasarkan kajian-kajian serta dokumen-dokumen penunjang kemudian mereka juga buatkan berita acaranya, kan begitu. Yang harus dilihat yakni pelaksanaan proyek lokusnya bukan lagi di Awalolong melainkan locusnya dipindahkan ke tempat lain. Lagi pula hasil pekerjaan itu ada dan saat inikan sudah dinikmati oleh masyarakat Lembata”, jelas Dr. Mel Ndaumanu

Menurut Dr. Mel Ndaumanu, Soal tuntutan ormas-ormas baik di Kupang maupun Jakarta itu wajar-wajar saja asalkan jangan melampaui atau bahkan mengintervensi soal pekerjaan penyidik.

“Kita menghargai setiap bentuk aspirasi sebagai bagian dari control masyarakat tetapi jangan melampui atau jangan terkesan mengintervensi tugas-tugas penyidik”, tegas Dr. Mel.

 

Lanjut Dr. Mel Ndaumanu, tentunya mereka (penyidik) punya prosedur dan tahap-tahapan dalam proses penyidikan kasus. Jadi kita sebagai bagian dari masyarakat mesti mengikuti proses ini dengan baik sehingga penyidik juga bekerja secara professional, mulai dari polisi, jaksa sampai pada persidangan. Biarlah ini berjalan secara professional, adil, transparan.

“Kita juga berharap kalau memang klien kami salah ya silahkan dihukum tetapi kalau tidak salah ya jangan dipaksakan untuk dihukum. Dan itu semua nanti dibuktikan di Pengadilan bukan di persidangan di media atau di jalanan. Semua inikan ada mekanismenya dan kita sudah sama-sama tempu melalui lembaga yang punya kewenangan untuk itu” pungkas Dr. Mel Ndaumanu.

Sebagaimana diberitakan media buserbhindo.com sebelumnya bahwa pekerjaan proyek ini namanya jety apung dan kolam renang apung yang sifatnya mobile. Sehingga baik Jety apung maupun kolam renang apung sudah dikerjakan dengan progress fisik pada posisi terakhir fisiknya mencapai 88, 35 %, sementara realisasinya dananya 80,41 % jadi masih ada minus 8 % lebih, dan masih ada sisa uang sebesar Rp500-san juta. Itu mungkin ekuivalen dengan retensi 5 % dan material pengadaan, rakitan kolam tersebut dan barangnya sudah jadi bahkan sementara ini ada di Wulen Luo, Lewoleba-Lembata. (Tim)

 

Tinggalkan Komentar
Selengkapnya

Berita Terkait

Back to top button